Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Beberapa Faktor Penyebab Miopia

 

Miopia atau mata minus saat ini dianggap sebagai epidemi dunia. Laju pertambahannnya sangat mencengangkan, menyebabkan para ahli berusaha keras untuk mengenali penyebabnya. Tujuan utamanya tidak lain untuk menekan laju angka miopia tersebut. Bayangkan, saat ini 80-90% remaja di negara tertentu di Asia Timur dan Tenggara adalah penderita miopia.

Johannes Kepler, seorang jenius di bidang matematika, astronomi dan astrologi Jerman secara unik dan tanpa sengaja memulai perdebatan kedua kubu ini. Sekitar 400 tahun lalu Kepler sedang mengamati efek refraksi cahaya permukaan bumi dan menemukan kesamaannya dengan sistem refraksi mata. Kepler yang kebetulan juga mempunyai masalah pada matanya, meyakini hubungan antara miopia dengan aktivitas mata dekat. Sejak itu, mulai timbul perdebatan, apakah faktor genetik atau lingkungan yang lebih dominan mengakibatkan miopia.

Latar belakang pendapat yang mendukung faktor genetika antara lain karena adanya kondisi khas, yaitu miopia yang terjadi pada keluarga, adanya kelainan genetik yang memang mengakibatkan kelainan mata termasuk miopia, tingginya miopia pada populasi atau ras tertentu.

Di pihak lain pendukung teori faktor lingkungan melihat adanya hubungan miopia dengan faktor tertentu seperti kegiatan belajar di sekolah, kurangnya aktivitas di luar ruangan, buruknya penerangan dan lain-lain.

Kedua teori ini silih berganti muncul dengan hasil penelitian dan studi baru, hingga disebutkan bagaikan gerigi gergaji. Tentu saja ini terjadi bertahap, di mana pada masa awal dunia pengetahuan genetika dan epidemiologi belum semaju saat ini. Seorang ahli mata yang mendalami miopia patologis, Brian J. Curtin dalam tulisannya di tahun 1985 mengatakan bahwa berbagai pendapat yang telah ada lebih banyak bersifat spekulasi. Entah berkelakar atau bukan, Curtin mengatakan mungkin banyak ahli yang mengalami kesulitan tidur sepanjang malam dan bangun di pagi hari dengan sebuah teori baru tentang miopia.

Beberapa istilah timbul bersama dengan bermunculannya penelitian dan studi tentang miopia, contohnya school myopia , disebabkan tingginya angka miopia pada anak sekolah. Aktivitas belajar dalam kelas diduga menjadi alasan terjadinya miopia, sehingga muncul pula tindakan pencegahan dengan meletakkan penyangga kepala pada setiap meja untuk menjaga jarak mata dari buku dan ini banyak dilakukan di RRC.

Teori genetika kemudian diperkuat oleh studi yang dilakukan pada pasangan kembar dan mendapatkan kuatnya faktor genetik sebagai penyebab miopia. Namun belakangan disimpulkan bahwa persentasenya tidak signifikan dibandingkan dengan faktor lingkungan. Pada kelainan bawaan seperti sindrom Marfan, Stickler syndrome dan congenital stationary night blindness hanya menjadi penyebab dari kurang lebih 1% kasus miopia.

Sebuah studi dilakukan di Singapura untuk melihat hubungan miopia yang sangat tinggi kejadiannya di sana, dengan berbagai faktor penyebab yang ada. Studi dilakukan pada remaja berusia antara 15-16 tahun. Etnis mayoritas yang ada di sana adalah cina, india dan melayu. Dengan paparan lingkungan yang relatif sama memang ditemukan tingginya angka miopia pada ketiga etnis tersebut, tapi dengan perbedaan angka di antara masing-masing etnis sebanyak 5-15%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan sistem pendidikan dan aktivitas luar ruangan. Namun akhirnya disimpulkan bahwa pengaruh terbesar adalah faktor lamanya aktivitas luar ruangan, di mana pada remaja etnis melayu lebih tinggi dengan angka miopia lebih rendah, disusul etnis india dan terakhir adalah etnis cina.

 Hal ini juga dapat menjelaskan bahwa walaupun tidak dapat dipungkiri faktor genetik memang berperan penting, tapi tingginya angka miopia pada etnis tertentu ternyata lebih dipengaruhi oleh kebiasaan dari etnis tersebut, bukan faktor genetiknya. Alasan lain yang mendukung teori faktor lingkungan adalah kenyataan cepatnya peningkatan angka miopia tidak mungkin disebabkan oleh perubahan genetik dalam waktu singkat.

Apa yang dapat kita simpulkan dari perdebatan ini? Kepentingan bukan pada siapa yang benar atau salah, tapi bagaimana menemukan pencegahan dengan metode yang tepat dan efektif mencegah terjadinya miopia, terutama pada usia anak hingga remaja. Karena pada tahap inilah miopia biasanya memburuk secara pesat. Jika kejadiannya dapat dicegah atau diperlambat, maka angka miopia berat yang berpotensi menjadi masalah serius akan dapat ditekan. Karena itu, lebih baik kita memang berpegang pada kedua teori tersebut tanpa mengabaikan salah-satunya, tapi faktor yang dapat dikontrol memang lebih condong pada faktor lingkungan. Karena itu, memperhatikan cara dan lamanya anak belajar, serta mendorong mereka untuk banyak beraktivitas di luar ruangan adalah usaha yang tepat untuk kita lakukan. Masa depan mata anak Indonesia berada di tangan kita semua.

 

Tinggalkan Komentar Anda

+ 80 = 90