Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Disabilitas Mata: Kehilangan Kemampuan Yang Tak Disadari

 

Masih dalam suasana peringatan Hari Disabilitas Internasional, tepat rasanya mengingatkan kita semua tentang disabilitas indra yang satu ini. Sesuai dengan tujuan peringatan ini yaitu:

  1. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disabilitas.
  2. Menghilangkan stigma tentang penyandang disabilitas.
  3. Memberikan dukungan untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan difabel.

Sebagai aplikasi butir pertama, meningkatkan kesadaran akan disabilitas mata, harus dimulai dari hulu. Karena sesungguhnya sebagian besar penurunan kemampuan mata adalah sesuatu yang dapat dicegah. Maka bersamaan dengan segala upaya untuk mendukung kemampuan dan kesejahteraan para difabel indra penglihatan ini, tidak kalah pentingnya juga dilakukan pencegahan bertambahnya jumlah difabel dengan pengenalan risiko dan upaya pencegahannya.

Menurut data WHO, 80% gangguan visus dapat dicegah dan diperbaiki. Dan 82% dari mereka yang mengalami kebutaan, terjadi di atas 50 tahun. Ini mengindikasikan bahwa kebutaan lebih banyak terjadi pada era tertentu setelah berjalannya waktu, bukan merupakan bawaan lahir, juga tidak terjadi secara tiba-tiba. Maka tidak salah jika diasumsikan, penurunan penglihatan ini baru disadari jauh setelah prosesnya berlangsung lama, yaitu ketika keterbatasannya telah mencapai tingkat yang bermakna.

Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan penurunan fungsi penglihatan hingga pada kebutaan, namun sesungguhnya dapat dikendalikan antara lain:

  1. Retinopati diabetik.
  2. Retinopati hipertensi.
  3. Glaukoma.
  4. Gangguan refraksi seperti rabun jauh yang tidak dikoreksi.
  5. Degenerasi makula.
  6. Atrofi saraf optik akibat trauma termasuk stroke.

Penyakit-penyakit degeneratif yang berhubungan dengan penambahan usia dapat mempengaruhi pembuluh darah dan saraf mata, seperti retinopati diabetik, retinopati hipertensi dan atrofi saraf. Karena itu mereka yang mengalaminya harus memahami pula risiko tersebut ada pada diri mereka. Karena itu pengendalian penyakit dasar harus dilakukan.

Selain itu sangat diperlukan tindakan yang bermanfaat untuk memelihara kesehatan mata, di antaranya:

  1. Segala bentuk proteksi seperti kacamata gelap untuk perlindungan terhadap sinar matahari terutama sinar UV, pelindung mata terhadap segala bentuk bahaya ketika bekerja, dan lain-lain.
  2. Tidak melalaikan nutrisi mata setiap harinya, sebagai pelindung mata internal. Lutein, zeaxhantin, karoten dan berbagai mineral penting yang menjaga mata dari berbagai pengaruh negatif dari lingkungan eksternal.
  3. Mampu membatasi mata dari aktivitas yang berlebihan.
  4. Melakukan konsultasi rutin dengan dokter mata. Bagi yang berisiko perlu menambah frekuensi kunjungan.

Kenyataan bahwa menjaga kesehatan mata dan waspada dengan segala risiko memang penting dilakukan. Menurut hasil penelitian Prevent Blindness America, di Amerika saja setiap 7 menit seseorang mengalami kebutaan permanen. Data lain menyebutkan di antara mereka yang berusia 21-64 tahun dengan keterbatasan visual yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membaca huruf normal bahkan dengan bantuan kacamata atau lensa, hanya 41,5% yang bekerja.

Bagaimana dengan kondisinya di Indonesia? Bisa dipastikan tidak lebih baik. Dengan jumlah kebutaan di atas 1% dari jumlah penduduk, saat ini lebih dari 3,6 juta orang di Indonesia menderita kebutaan. Berapa banyakkah yang tidak bekerja di antara angka tersebut? Banyak hal yang perlu mendapat perhatian. Tapi segala sesuatu dapat dimulai dari satu tindakan sederhana, yaitu mengenali risiko yang ada pada dirinya masing-masing.

 

Tinggalkan Komentar Anda

54 + = 63