Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Efek Radiasi Ultra Violet Bagi Kesehatan

 
Perbincangan seputar radiasi ultra violet (RUV) bagi kesehatan memang menarik, namun seringkali berakhir dengan argumentasi yang berefek menjadikan masyarakat bingung, mana yang harus diikuti. Jangan heran, karena para ahli kesehatan sendiri memang masih belum sepakat. Tergantung di pihak mana mereka berdiri, ahli penyakit kulit cenderung mementingkan perlindungan terhadap efek RUV, sedangkan di posisi sebaliknya lebih mementingkan manfaat RUV bagi kesehatan.
RUV memang di satu pihak terbukti menyebabkan peningkatan risiko beberapa jenis kanker kulit serta efek penuaan dini. Negara tertentu seperti Australia bahkan mempunyai kampanye tersendiri untuk memperingatkan warganya akan bahaya RUV. Memang negara dengan penduduk mayoritas berkulit putih atau kaukasia merupakan kelompok yang rentan terhadap efek RUV. Kurangnya pigmen melanin yang berfungsi melindungi kulit terhadap RUV menyebabkan mereka lebih mudah mengalami sunburn serta efek negatif lainnya, termasuk kanker kulit. Di pihak lain sinar UV dalam batas tertentu sangat diperlukan oleh tubuh manusia. Seperti kita ketahui, RUV merupakan sumber vitamin D bagi tubuh manusia. Untuk vitamin D, manusia tidak harus mencarinya dari makanan. Cukup dengan paparan sinar matahari, vitamin D akan diaktifkan menjadi vitamin D3 yang kemudian akan dipakai untuk berbagai proses yang melibatkan sekitar 1000 gen di dalam tubuh dan berhubungan dengan kesehatan saraf, tulang, sistem imun dan banyak proses lainnya, termasuk mempengaruhi mood dan tidur.
Untuk membantu Anda memahami dan mengambil sikap, berikut ini beberapa informasi yang perlu Anda ketahui:
  1. Data WHO tahun 2006 menunjukkan sekitar 0,1% penyakit disebabkan efek berlebihnya RUV. Termasuk di dalamnya adalah kebutaan. Namun 3,3 M penduduk dunia menderita penyakit akibat kurangnya paparan UV setiap tahunnya. Jangan melihat data ini hanya sebagai angka statis, angka ini dapat berubah seiring waktu. Karena itu dengan hanya membandingkan angka keduanya, rasanya akan menjadi kurang obyektif. Selain itu Anda juga perlu melihat di mana dan siapa Anda. Seberapa besar risiko Anda. Jika Anda berkulit gelap, data menyatakan risiko Anda lebih kecil. Tapi bukankah walaupun kecil, Anda tetap punya risiko? Jangan bingung dulu, Anda masih perlu mempertimbangkan faktor lainnya.
  2. tidak perlu bingung dengan UVA atau UVB, cukup saja berpegang pada prinsip bahwa manusia memerlukan sinar matahari, dapatkan secara cukup dan rutin. Makin panas, makin banyak RUV yang Anda dapatkan. Jangan menunggu sampai Anda merasa tidak nyaman, kemungkinan RUV sudah berlebihan. Anda dapat menderita luka bakar berupa kemerahan dan perih.
  3. Paparan berlebihan tidak dapat disamakan pada setiap orang. Tergantung pada jenis kulit, tempat tinggal, dll.
  4. Mereka yang berkulit putih dan tinggal di daerah seperti Amerika Serikat, berjemur di bawah matahari musim semi pada jam 11 selama ½ jam dengan pakaian renang dapat menghasilkan sekitar 50.000 IU vitamin D3 dalam sirkulasi darahnya dalam 24 jam setelah paparan. Berbeda dengan mereka yang berkulit sawo matang dengan kondisi yang sama, hanya memproduksi 20.000-30.000 IU. Sedangkan mereka yang berkulit hitam hanya memproduksi 8.000-10.000 IU. Sebuah studi menyebutkan bahwa orang berkulit hitam memerlukan 5-6 kali paparan UV lebih lama dibandingkan yang berkulit putih.
  5. Pada saat yang sama, indeks UV mungkin berbeda pada setiap lokasi. Negara yang berada lebih dekat dengan khatulistiwa seperti Indonesia adalah tempat dengan indeks UV tertinggi. Saat ini indeks UV di mayoritas wilayah Indonesia berada pada kategori sangat tinggi. Dan ini dapat berubah menurut kondisi iklim. Saat ini Anda dapat mengetahui indeks UV terkini melalui situs tertentu.
  6. Indeks UV sejak matahari terbit dan terbenam juga berbeda. Tertinggi adalah ketika matahari berada pada lokasi tertinggi, yaitu tengah hari. Dalam kondisi seperti ini, di area khatulistiwa WHO menganjurkan untuk tidak berada di tempat terbuka tanpa perlindungan seperti naungan bangunan, topi, kacamata hitam, tabir surya dan sejenisnya. Karena itu secara rata-rata matahari pagi sebelum jam 10 mungkin paling aman bagi kita jika ingin berolah raga agak lama tanpa perlu direpotkan dengan segala macam pelindung.
Nah, berikut adalah tips mendapatkan manfaat dari sinar UV serta bagaimana cara menghindari risiko bahayanya:
  1. Kenali status Anda dan lingkungan. Jika Anda termasuk berisiko dan berada pada daerah dengan indeks UV tinggi, batasi paparan Anda oleh sinar matahari dengan memperpendek waktu paparan, misalnya hanya 20 menit sebelum matahari tinggi.
  2. Pendapat ahli bahwa beraktivitas di luar bangunan saat sinar matahari bersahabat akan mengatur kembali jam biologis Anda, Anda akan lebih mudah tidur, merasa lebih bahagia, memperkuat imunitas dan berbagai manfaat lainnya. Karena itu risiko RUV dapat dikurangi dengan mengonsumsi suplemen D3.
  3. Segala sesuatu yang baik, akan tetap baik jika tidak berlebihan. Berbagai informasi yang didapat, dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk dipraktekkan sesuai dengan kondisi Anda.
   
 

Tinggalkan Komentar Anda

+ 27 = 31