Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Mengapa Anak Perlu Sedini Mungkin Ke Dokter Mata

Bagi yang memiliki anak pasti telah memahami dan merasakan pengalaman bolak-balik ke dokter untuk imunisasi, berobat atau sekedar berkonsultasi. Biasanya yang dikunjungi adalah dokter umum atau dokter anak. Kecuali ketika ada masalah yang memerlukan spesialis lainnya seperti bedah, gizi, dll. Kelihatannya dokter di luar dokter anak atau dokter umum memang bukan prioritas. Termasuk dokter mata, adalah salah satu spesialis yang biasanya dikunjungi hanya ketika ada masalah yang berkaitan dengan mata. Bisa dipahami, salah satu alasannya adalah karena biaya pengobatan relatif mahal. Maka tanpa adanya keluhan yang mendahului, memeriksakan kondisi mata anak dirasa bukan sebagai keharusan. Apakah memang demikian?

Sepertinya memang belum ada aturan baku, pada usia berapa dan berapa lama sekali anak perlu diperiksakan ke dokter mata. Pada dasarnya beberapa masalah mata juga dapat ditangani oleh dokter umum atau dokter anak.

Namun akan berbeda jika kita berbicara tentang kondisi mata tertentu yang tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan sederhana. Dan kondisi-kondisi tersebut sebagian telah ada sejak lahir atau mungkin terjadi pada masa-masa awal seorang anak. Ditambah lagi, beberapa kondisi akan lebih baik jika diketahui sedini mungkin, seperti lazy eyes atau ambliopia. Kelainan mata yang sekilas mirip mata juling. Alasan utama mengapa anak sebaiknya mendapatkan evaluasi dokter mata pada tahun-tahun awal hidupnya, adalah untuk mengetahui ada tidaknya kelainan bawaan. Terutama bagi pasangan yang memiliki kondisi mata yang dapat diturunkan secara genetik kepada anaknya. The University of Arizona Health Sciences mencatat sekitar 350 jenis kelainan mata genetik, antara lain: kelainan refraksi (mata minus, mata plus, silinder), buta warna, glaukoma dan kelainan produksi airmata. Memang tidak semuanya dapat dikenali di tahun pertama usia anak, seperti pada buta warna. Untuk dapat mendiagnosa kondisi ini setidaknya perlu menunggu hingga anak dapat mengenali angka atau bentuk. Namun pada kasus lain seperti glaukoma kongenital, merupakan kasus yang dapat didiagnosa sekalipun pada bayi dan kepentingannya sangat besar, di mana dapat mencegah terjadinya komplikasi karena rusaknya saraf mata hingga terjadi kebutaan.

Bagi mereka yang mempunyai masalah mata, cobalah mencari tahu apakah ada kemungkinan secara genetik dapat menurun pada anak Anda. Namun jika Anda merasa tidak yakin, maka memeriksakan mata anak Anda lebih dini akan lebih baik. Misalnya jika salah satu dari Anda atau pasangan Anda memiliki mata minus, maka akan ada kemungkinan anak Anda mengalami hal yang sama. Apalagi jika dua-duanya bermata minus, kemungkinannya menjadi lebih besar. Mata minus mayoritas disebabkan bentuk bola mata yang memanjang, mengakibatkan bayangan jatuh tidak tepat pada titik yang seharusnya. Bentuk bola mata ini yang dapat diturunkan kepada anak. Mungkin Anda bertanya, jika ini dapat bersifat genetik, apa manfaatnya diketahui lebih dini? Tentu saja karena ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperlambat progresivitasnya. Jika dibiarkan tanpa penanganan, mata minus dapat berkembang lebih cepat. Ketika terjadi pada masa pertumbuhan berpotensi menjadi miopia berat yang merepotkan sekaligus berbahaya.

Kesimpulannya, walaupun tidak ada ketentuan pasti, memeriksakan mata anak adalah sesuatu yang bijak untuk dilakukan. Setidaknya lakukan sekali sebelum usia 3 tahun. Jika ada riwayat masalah mata pada orang tua, lakukan lebih dini, tergantung pada jenis gangguannya. Mata adalah harta yang berharga. Menjaga kesehatan mata anak artinya mendukung masa depannya.

Tinggalkan Komentar Anda

8 + 2 =