Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Penanganan Yang Tepat Untuk Mata Juling

 

    Manusia memiliki dua mata yang letaknya sejajar, berdekatan dan menghadap ke arah yang sama. Tidak seperti beberapa binatang yang matanya terletak pada sisi yang berbeda. Pernahkan Anda mencoba menutup satu mata sambil memandang sebuah obyek secara bergantian? Anda akan melihat seolah-olah obyek tersebut berpindah, karena memang masing-masing mata memberikan gambar yang tidak persis sama. Gambar dari kedua mata tersebut akan diterjemahkan dan dijadikan satu gambaran 3 dimensi yang dikenal dengan gambaran stereoskopik atau binokular. Kemampuan mata binokuler memberikan gambar yang dapat memberikan informasi jarak dan posisi dengan lebih baik. Buktikan dengan memasukkan benang ke lubang jarum seperti biasa, bandingkan tingkat kesulitannya bila Anda hanya menggunakan sebelah mata. Bagaimana? Apakah sulit?

Dalam menjalankan aktivitasnya, mata melibatkan:

  • 6 otot pada masing-masing mata
  • 3 saraf kranial dengan pusat pada otak
  • 4 dari otot bekerja menggerakkan bola mata ke kanan, kiri, atas dan bawah
  • 2 otot lainnya bekerja dengan lebih kompleks sehingga bola mata dapat bergerak ke segala arah.

Sepanjang pergerakannya kedua bola mata secara normal bergerak simetris. Bila tidak simetris, inilah yang disebut juling atau strabismus. Pada mata juling, kedua bola mata tidak fokus kepada obyek yang sama. Biasanya salah satu berada pada posisi yang benar, sedang yang satu lagi berada pada titik yang berbeda dari yang dikehendaki (berdeviasi). Ada beberapa variasi juling, yaitu:

  1. Deviasi ke arah dalam atau ke arah hidung = esotropia.
  2. Deviasi ke arah luar = eksotropia.
  3. Deviasi ke atas = hipertropia.
  4. Deviasi ke bawah = hipotropia.

Lalu gambaran seperti apa yang diberikan kedua mata dengan kondisi-kondisi tersebut? Berikut penjelasannya:

  1. Kemungkinan yang sangat jarang terjadi adalah kedua gambar yang berbeda digabung menjadi satu oleh  otak, mengakibatkan suatu kondisi yang disebut sebagai kebingungan visual.
  2. Yang lebih umum terjadi adalah gambaran menjadi ganda dan kabur. Ini terjadi pada fase awal/akut.
  3. Pada tahap lanjut, otak akan mengesampingkan gambar dari mata yang berdeviasi sehingga hasil yang diciptakan adalah gambaran yang normal.
  4. Pada sebagian pasien, mata yang berdeviasi akan menyesuaikan diri dan bergerak ke arah yang diinginkan, kemudian memberikan gambar yang normal.
  5. Tapi pada sebagian lagi mata yang berdeviasi tersebut mengalami penurunan secara permanen. Kondisi ini dikenal dengan istilah ambliopia = lazy eye = mata malas. Biasanya terjadi pada mereka yang mengalami kelainan sejak masa awal kelahiran dan tidak mendapatkan penanganan tepat atau segera sehingga gambar yang diberikan oleh mata yang berdeviasi ditekan dan tidak tertangkap oleh otak. Secara fisik terlihat mata juling tapi penderita tidak merasakan gangguan penglihatan.

Juling ada yang hanya muncul pada kondisi tertentu. Tapi bila terjadi secara terus-menerus akan menjadi lebih serius. Kadang posisi kepala akan berusaha menyesuaikan diri pada posisi yang tepat untuk membantu bola mata yang berdeviasi, akibatnya kepala akan miring ke arah tertentu. Bila terjadi pada anak, akan menimbulkan kelainan pertumbuhan tulang tengkorak.

Kapankah mata juling terjadi?

  1. Sebagian anak lahir dengan kecenderungan menjadi esotropia. Ini dapat bersifat menurun dalam keluarga dan biasanya terjadi pada tahun awal kelahiran.
  2. Sebagian terjadi di kemudian hari akibat gangguan saraf atau otot akibat trauma.
  3. Sebagian lagi terjadi pada usia 3-6 tahun akibat menderita mata plus dan membutuhkan kacamata untuk membantu matanya menjadi fokus.
  4. Mata juling eksotropia atau esotropia dapat pula menjadi tanda adanya penyakit serius seperti retinoblastoma (sejenis kanker mata). Deviasi keluar disertai turunnya kelopak mata (ptosis) dapat disebabkan oleh kerusakan saraf mata akibat tumor otak.

Apa yang harus dilakukan bila mengalami ambliopia atau juling?

  1. Tindakan untuk memastikan dan terapi harus dilakukan sesegera mungkin ketika otak dan saraf masih dapat berubah, sehingga tidak menjadi permanen.
  2. Ambliopia ditangani dengan memaksa otak menggunakan gambar yang diberikan oleh mata yang berdeviasi dengan cara menutup mata yang normal atau memberikan obat tertentu supaya pandangan mata yang normal menjadi kabur untuk beberapa jam dalam sehari selama beberapa minggu atau beberapa bulan.
  3. Sebagian kasus sesungguhnya bukan juling, tapi mengalami ambliopia karena kelainan refraksi, sehingga akan teratasi setelah menggunakan kacamata.
  4. Pada kasus tertentu dapat dikoreksi dengan operasi otot mata. Kadang diperlukan operasi susulan, atau operasi dapat juga diperlukan lagi setelah beberapa tahun lamanya berhasil baik setelah operasi pertama.

Kesimpulannya juling adalah kondisi yang mungkin untuk dikoreksi, asal diketahui sedini mungkin dan mendapatkan penanganan tepat.

 

Tinggalkan Komentar Anda

+ 40 = 50