Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Retinopati Hipertensi: Ketika Darah Tinggi Menyebabkan Kebutaan

 

Istilah hipertensi sudah dipahami secara luas oleh masyarakat. Menurut data  Kementrian Kesehatan 2018, angka prevalensi hipertensi penduduk Indonesia berusia 18 tahun ke atas adalah 34,1 persen. Adapun prevalensi 2013 sebesar 25,8 persen. Artinya, ada peningkatan jumlah penderita sebanyak 8,3 persen. Adalah keharusan bagi setiap orang untuk mengetahui kondisi tekanan darahnya, apakah masuk dalam kategori normal, normal namun berada pada batas atas dan berisiko menjadi hipertensi atau sudah dianggap sebagai hipertensi. Seseorang dianggap mengalami hipertensi bila tekanan darahnya >140/90 mmHg pada pemeriksaan berulang. Tapi untuk memperkecil risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, lebih dianjurkan untuk megusahakan tekanan darah di bawah angka tersebut. Ini adalah langkah awal dalam menghadapi risiko hipertensi.

Lebih jauh lagi ada yang perlu juga diketahui, bahwa hipertensi bukan hanya sekedar untuk diketahui, tapi ada hal-hal yang perlu dilakukan sebagai antisipasi atau reaksi setelahnya. Salah satunya adalah mencegah komplikasi. Stroke adalah komplikasi penting yang berkaitan langsung dengan hipertensi.

Stroke terjadi pada pembuluh darah otak. Maka untuk mengetahui kondisi pembuluh darah otak sebelum stroke terjadi dapat dilakukan dengan cara mendapatkan gambarnya melalui metode CT scan atau MRI. Metode-metode ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karenanya pemeriksaan ini belum menjadi prosedur rutin pemeriksaan pada penderita hipertensi.

Retinopati hipertensi sebenarnya merupakan bagian dari komplikasi hipertensi. Merupakan kelainan pembuluh darah retina yang berkaitan dengan hipertensi. Biasanya dikarenakan hipertensi yang telah berlangsung cukup lama dan tidak terkendali dengan baik, di mana terjadi berbagai perubahan fisik dan fungsi dari pembuluh darah kecil di bagian dalam bola mata. Berita baiknya adalah kelainan ini dapat terlihat dengan pemeriksaan mata menggunakan alat yang cukup sederhana, yaitu oftalmoskop, bahkan sebelum kelainan tersebut menimbulkan gejala dan disadari oleh penderita. Tidak salah bila mata dijuluki sebagai jendela, tidak hanya pada kasus hipertensi, tapi pada beberapa jenis penyakit yang lain pun dapat diperoleh gambaran awal dengan pemeriksaan funduskopi ini.

Penjelasan sederhana untuk ini adalah kesamaan proses yang terjadi sebagai akibat dari tekanan pembuluh darah yang tinggi, mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, termasuk otak dan mata. Sebuah studi yang dilakukan kepada ribuan penderita hipertensi murni tanpa penyakit lain seperti kolesterol tinggi dan diabetes, memperlihatkan bahwa informasi tentang adanya retinopati hipertensi sedikit banyak dapat menggambarkan risiko terjadinya stroke.

Retinopati hipertensi sendiri mempunyai risiko. Gambaran funduskopi adanya retinopati hipertensi, merupakan peringatan untuk lebih serius dalam mengontrol hipertensi serta menerapkan pola hidup sehat. Retinopati hipertensi bila berlanjut dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga pada kebutaan.

Apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencegah retinopati hipertensi? Di antaranya adalah:

- Mengontrol hipertensi dengan komunikasi rutin dan intensif dengan dokter Anda, termasuk pemeriksaan mata.

- Olah raga teratur yang sesuai.

- Hindari rokok

- Kurangi konsumsi garam. Beberapa studi memperlihatkan masyarakat Asia cenderung lebih rentan terhadap angka konsumsi garam. Artinya, tingkat konsumsi garam sangat menentukan pengendalian hipertensi.

- Nutrisi seimbang dalam hal ini terutama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mata, yaitu makanan yang kaya akan vitamin A, C, E, Lutein, Zeaxanthin, seng (zinc).

- Cukup istirahat

- Mencegah stress.

 

Tinggalkan Komentar Anda

+ 77 = 85