Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Gawat! Tuli Mengancam Remaja Dunia

Anda mungkin pernah berada dalam sebuah restoran atau kafe yang ramai dan gaduh, bagaimana anda berkomunikasi? Mungkin anda akan tertawa bila mengingat kembali bagaimana anda salah menangkap kata-kata dari teman bicara anda, meeting menjadi lama karena beberapa kali salah menangkap makna pembicaraan, dll. Belum lagi bila anda membayangkan kembali mimik wajah pacar anda yang cemberut karena anda berulang kali memintanya mengulang pernyataannya atau pertanyaannya? Kacau sekali bukan?

Ini bukan lagi menjadi cerita lucu bila terjadi dalam situasi berbeda, anda berbicara dengan seorang yang setengah tuli. Atau bagaimana kalau anda sendiri yang mengalami kesulitan pendengaran? Kekesalan, pertengkaran dan rasa frustrasi seringkali terjadi akibat  komunikasi yang sulit tersebut. Ketulian adalah salah satu faktor pengganggu dalam hubungan rumah tangga secara khusus dan hubungan sosial secara umum.

Ancaman akibat ketulian ini bukan lagi menjadi sebuah fenomena alami yang disebabkan oleh faktor usia, tetapi sekarang menjadi sebuah kekhawatiran yang sangat beralasan. Para remaja dan dewasa muda, bahkan anak-anak yang hidup di era kemajuan dunia dalam berbagai bidang terutama teknologi akan hidup di bawah ancaman ketulian dini.

Sejak dini anak-anak dikenalkan kepada lingkungan bising. Berapa lama seorang anak biasanya diajak bermain dalam arena permainan bermesin pencipta kebisingan di atas 100 dB? Komnas PGPKT (Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan ketulian) melakukan survey di 16 kota besar Indonesia dan mendapatkan rata-rata bunyi alat di arena permaianan anak-anak dalam mal sebesar 93-128 dB. Dimana batas aman pendengaran adalah < 80 dB dan bila berada dalam lingkungan dengan bising > 100 dB maksimal hanya 15 menit.

Penggunaan earpeace atau earphone juga sedemikian meningkatnya. Sebuah lembaga riset digital marketing mendapatkan data pengguna telepon seluler di Indonesia pada tahun 2018 >100 juta orang. Angka ini dihubungakan dengan meningkatnya pengguna earpeace/earphone di Indonesia yang tentunya berjalan seiringan. Kemajuan dunia musik dan digital memberikan kenyamanan kepada penikmat musik untuk mendengarkan musik kapan saja mereka inginkan. Belum lagi para gamer yang tidak ketinggalan dalam memanfaatkan kenyamanan perangkat telinga ini. Bagaimana memanfaatkan earpeace/headphone dengan benar? Sebuah panduan memberikan batasan aman pada 60% volume dengan durasi maksimal 60 menit.

Beberapa lokasi yang juga menjadi sumber kebisingan adalah pabrik, lapangan terbang, arena latihan tembak, diskotik, dll. Idealnya adalah mengurangi produksi kebisingan dengan tindakan misalnya menggunakan mesin-mesin yang bersuara lebih halus, meletakkan genset dalam ruangan khusus atau mengurangi durasi paparan dengan memberikan waktu istirahat dll. Yang tidak kalah penting adalah melindungi telinga dengan earplug/earmuff. Tentunya hal ini dapat dimaksimalkan dengan lebih dahulu meningkatkan kesadaran akan bahaya NIHL (noise induced hearing loss) atau GPAB (Gangguan Pendengaran Akibat Bising) yang merupakan salah satu dari 5 penyebab ketulian.

 Bila anda ingin mengukur tingkat kebisingan suatu tempat, anda dapat menggunakan sound meter level. Namun berikut ini beberapa data tingkat bising yang biasa kita temui sehari-hari :

Lemari es                                          : maksimal 45 dB

Percakapan normal                       : 60-65 dB

Kebisingan lalu lintas kota            : 80-100 dB

Film laga bioskop                            : 90-100 dB

MP3                                                   : maksimal 105 dB

Kelab malam                                    : rata-rata 110 dB

Gergaji mesin                                  : 115-120 dB

Konser rock                                      : 120 dB

Petasan/letusan senjata api        : mencapai 150 dB

Terdapat panduan bagi para pekerja yang terpapar bising serta memberikan gambaran umum pula bagi kita bagaimana mengantisipasi lingkungan bising dengan bijak yaitu dengan tabel berikut:

Mengenali lingkungan bising dan melakukan antisipasi adalah kunci untuk terhindar dari ketulian dini di masa yang akan datang. Mulailah dengan melindungi diri anda dan keluarga, selanjutnya adalah tanggung jawab kita kepada lingkungan.

Tinggalkan Komentar Anda

9 + 1 =