Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Happy Hypoxia: Apa Yang Perlu Diantisipasi?

Sejak awal COVID-19 muncul hingga saat ini, banyak hal baru yang ditemukan dan menimbulkan berbagai reaksi. Penemuan dan informasi baru yang jarang atau bahkan tidak terjadi pada penyakit lainnya membuat para dokter dan peneliti terus mencari jawaban dan solusi untuk mengatasinya. Salah satu di antaranya adalah yang disebut dengan terminologi “happy hypoxia”, merupakan topik yang ramai dibicarakan. Sebagai suatu pengetahuan baru, ada baiknya kita memahami istilah ini. Akan lebih baik lagi jika kemudian kita mengetahui sikap dan antisipasi yang tepat, bukan malah salah sasaran sehingga menimbulkan kepanikan dan tidak banyak membantu mengatasi masalah.

Hipoksia adalah suatu kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen. Pada umumnya kondisi ini akan disertai dengan salah satu gejala utamanya, yaitu sesak napas. Seseorang yang mengalami sesak napas biasanya akan menyadari dan merasa tidak dapat bernapas dengan leluasa, tidak nyaman dan menjadi gelisah. Kondisi inilah yang tidak terjadi pada sebagian penderita COVID-19. Banyak laporan kasus bahkan jurnal yang memperlihatkan perjalanan penyakit yang tidak biasa, di mana pasien yang dirawat terlihat baik-baik saja, padahal tubuh mereka telah mengalami kekurangan oksigen yang cukup berat. Masalahnya adalah, tidak seperti gejala sesak napas yang tidak muncul, tidak demikian halnya dengan akibat yang ditimbulkannya. Ketika kadar oksigen telah cukup rendah, tubuh tidak akan dapat menyembunyikan berbagai efek kekurangan oksigen tersebut, seperti lemas, bingung, sulit berkonsentrasi, kenaikan denyut jantung hingga penurunan kesadaran. Ini juga menandakan bahwa paru-parunya telah mengalami penurunan fungsi dan penyakitnya sedang berjalan ke arah yang lebih serius. Jika terus berlanjut dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ dan jaringan seperti ginjal, jantung dan otak.

Dalam kondisi normal, ada kerja sama antara otak dan organ pernapasan dalam mengatur kebutuhan oksigen. Saat terjadi hipoksia, otak akan menerima pesan dari saraf tertentu dan selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan memberikan sinyal “dahaga udara” kepada komponen pernapasan untuk melakukan proses pengambilan udara lebih banyak dan lebih cepat. Pada sebagian penderita COVID-19 terjadi kerusakan saraf tersebut yang mengakibatkan proses pengiriman pesan terganggu. Jadi perlu di garis bawahi di sini, yang menghilang adalah mekanisme pengiriman pesan, namun proses defisit oksigen dengan segala dampaknya terus berjalan.

Dengan mengetahui prinsip terjadinya happy hypoxia ini, lebih membantu kita untuk membayangkan, apa prioritas utama yang perlu kita antisipasi, dan mana yang dapat diposisikan di belakang. Mari kita telusuri dan simpulkan bersama:

  • Karena kandungan oksigen dalam darah dapat menggambarkan kondisi oksigen dalam sel dan jaringan, maka alat sederhana seperti oksimetri dapat membantu menampilkan nilai tersebut, sehingga saat ini mulai dicari sebagai persediaan di rumah-rumah. Oksimetri sesungguhnya bukan peralatan yang umum digunakan di rumah. Namun dalam situasi pandemi seperti sekarang, sesuatu yang tidak umum bisa menjadi umum bukan? Apalagi oksimetri telah tersedia di pasaran dengan harga yang sangat terjangkau. Pertanyaan pertama: apakah semua oksimetri mempunyai kualitas yang cukup baik dan dapat dipercaya? Sebuah studi dilakukan pada tahun 2011, melakukan pemeriksaan kualitas 847 oksimetri yang sedang digunakan oleh 29 rumah sakit di Inggris. 10,5% dari oksimetri tersebut mengalami gangguan sirkuit listrik sehingga dinilai tidak akurat. 22,3% di antaranya memiliki spektrum emisi yang berbeda dari spesifikasi pabrik, sehingga juga dinyatakan tidak akurat. Nah, silakan dipertimbangkan apakah oksimetri yang dijual bebas dengan harga pasaran yang ada sekarang, apakah cukup bisa diandalkan. Jangan lupa ada satu alat yang lebih diprioritaskan, yaitu termometer untuk mengukur suhu tubuh. Karena demam merupakan salah satu gejala yang lebih awal timbul, jangan sampai gejala ini terlewatkan dan baru mencari pengobatan setelah oksimetri menyatakan orang tersebut mengalami hipoksia. Sakit tenggorokan, nyeri tubuh dan rasa lelah juga lebih umum mendahului hipoksia. Jadi untuk antisipasi awal, pengenalan beberapa gejala awal dinilai lebih penting daripada mengetahui saturasi oksigen yang diketahui dari alat oksimetri.
  • Sebagian ahli menduga, terganggunya sensor hipoksia ini kemungkinan sejalan dengan efek virus terhadap hilangnya indera penciuman. Dengan kata lain, kemungkinan besar sudah ada keluhan hilangnya daya penciuman. Jika seseorang mengalami hal ini, telah menjadi indikasi untuk memeriksakan diri dan tidak mengandalkan oksimetri untuk itu.
  • Pada dasarnya peringatan akan gejala happy hypoxia ini lebih ditujukan kepada para tenaga medis. Tujuannya agar waspada pada ketidaksesuaian kondisi fisik dengan level oksigen dalam tubuh pasien, sehingga selalu memantau parameter lainnya yang diperlukan seperti oksimetri, spirometri, analisa gas darah atau gambaran scan paru-paru. Sedangkan bagi masyarakat awam, jangan menjadikan oksimetri penentu kapan waktunya mendatangi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Kemungkinan besar waktu terbaik telah terlewati.
  • Oksimetri mungkin diperlukan bagi mereka yang menjalani perawatan di rumah karena keterbatasan fasilitas rumah sakit, atau mereka yang menjalani karantina mandiri dengan status berkontak erat dengan pasien positif COVID-19. Namun saat ini pemerintah sedang menjalankan kebijaksanaan untuk merawat semua pasien positif pada fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk, untuk memperketat pengawasan dan memutus tali penularan.

Kesimpulannya happy hypoxia sangat kecil kemungkinannya terjadi tanpa ada gejala awal sama sekali. Jangan mengacuhkan gejala awal tersebut seperti demam, kehilangan daya penciuman, sakit tenggorokan, nyeri otot atau rasa lelah yang tidak biasa. Terutama jika Anda merasa mempunyai risiko terpapar COVID-19 atau mempunyai riwayat kontak. Jika Anda dan seisi rumah Anda mengikuti protokol kesehatan dengan pola hidup sehat, disiplin bermasker, rajin mencuci tangan serta menjaga jarak sosial, seharusnya happy hypoxia bukanlah sesuatu yang perlu Anda risaukan.

Tinggalkan Komentar Anda

41 + = 49