Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Patah Tulang Karena Osteoporosis: Bisakah Dicegah?

 

Hampir 9 juta kasus patah tulang karena osteoporosis terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Osteoporosis adalah penyakit gangguan metabolisne tulang yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan tulang (BMD: bone mineral density) dan meningkatkan risiko terjadinya patah tulang. Di Amerika Serikat sendiri osteoporosis diperkirakan terjadi pada sekitar 10 juta orang dan akan menjadi 14 juta pada 2020. Sebenarnya osteoporosis merupakan gangguan tanpa gejala dan sering kali diketahui setelah penderitanya mengalami patah tulang dan menjalani pemeriksaan radiologi. Ini jugalah yang menjadi tantangan bagi para tenaga kesehatan, bagaimana meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap komplikasi tersebut dan termotivasi untuk melakukan pencegahan sejak dini.

Kepadatan tulang manusia mencapai puncaknya pada usia sekitar 30 tahun. Setelah itu tulang akan berangsur-angsur mengalami penurunan kepadatan. Prinsipnya ada peluruhan/pelepasan masa tulang (resorbsi) dan sebaliknya terjadi pula penyusunan kembali unsur-unsur tulang (remodeling). Keseimbangan antara kedua proses ini akan menciptakan kondisi tulang yang baik. Proses bertambahnya usia, dimulai dari usia 30 tahun, perlahan mulai menyebabkan penurunan kepadatan tulang.  Tapi beberapa faktor dapat menyebabkan penurunan terjadi secara drastis. Secara umum faktor genetik memegang peranan besar dalam mempengaruhi kepadatan tulang seseorang. Artinya, bila orang tua mengalami osteoporosis, risiko bagi anak-anaknya akan meningkat. Tapi tentu saja ada faktor lain yang ikut mempengaruhi, seperti nutrisi, aktivitas/olah raga, penyakit atau penggunaan obat tertentu. Demikian pula faktor hormonal. Pada wanita sangat dipengaruhi oleh estrogen, sedangkan pria dipengaruhi oleh hormon testosteron. Pada wanita yang mengalami menopause terjadi penurunan drastis produksi hormon estrogen. Di masa ini wanita akan kehilangan masa tulangnya secara drastis. Osteoporosis karena faktor usia dan hormonal dikategorikan sebagai osteoporosis primer. Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh:

- Penyakit tertentu seperti Sindroma Cushing menyebabkan meningkatnya peluruhan masa tulang.

- Penyakit inflamasi seperti rematoid artritis menyebabkan pasiennya harus mengkonsumsi obat golongan glukokortikoid jangka panjang yang salah satu efek sampingnya adalah osteoporosis. Glukokortikoid diketahui merupakan obat yang paling banyak menyebabkan osteoporosis. Osteoporosis mulai terjadi ketika pemakaian glukokortikoid memasuki bulan ketiga-keenam.

- Pada pria penyebab yang sering biasanya adalah pemakaian obat untuk terapi kanker prostat serta alkohol dan rokok.

Bila diketahui mengalami pengeroposan tulang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

(-)Pengobatan dengan obat-obatan yang berfungsi mengurangi resorbsi / peluruhan masa tulang dan meningkatkan pembentukan kembali masa tulang.

(-)Penatalaksanaan tanpa obat, yaitu dengan meningkatkan asupan vitamin D dan kalsium, menghentikan rokok, kopi dan alkohol, olah raga serta upaya penting untuk menghindari terjatuh. Selain itu pemeriksaan dini BMD juga terbukti menekan angka patah tulang. Adapun anjuran untuk skrining BMD adalah usia 65 tahun pada wanita, 70 tahun pada pria atau bila memiliki faktor risiko osteoporosis dianjurkan untuk memeriksakan diri lebih awal, yaitu sekitar pada usia 45-54 tahun pada wanita dan 50-69 tahun pada pria.

Di beberapa negara upaya mencegah penderita osteoporosis mengalami jatuh, telah dilakukan dengan upaya yang sangat serius, misalnya dengan berbagai tindakan edukasi dan pelatihan. Hal ini patut sekali dilakukan, mengingat patah tulang karena terjatuh merupakan muara dari akibat osteoporosis yang paling ditakuti, bukan hanya karena pemulihannya yang lebih sulit, tetapi juga karena berbagai komplikasinya yang akan mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

 

Tinggalkan Komentar Anda

+ 35 = 37