Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Tinggal Di Negara Tropis: Masih Perlukah Suplementasi Vitamin D?

 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, yuk cek dulu beberapa fakta perlu kita tinjau dahulu:

  1. Vitamin D telah lama dikenal sebagai vitamin yang penting bagi kesehatan tulang dan otot. Belakangan diketahui berperan pula sebagai anti peradangan, meningkatkan imunitas dan anti kanker, serta menekan diabetes dan penyakit kardiovaskular.
  2. Vitamin D yang diproduksi oleh tubuh terdiri dari 2 jenis, yaitu vitamin D2 yang diperoleh dari makanan yang kaya akan D2 seperti minyak ikan salmon, produk susu, keju dan lain-lain. Satu lagi adalah vitamin D3 yang disintesa oleh kulit ketika terpapar oleh sinar matahari yang mengandung UVB. Kemungkinan vitamin D yang diperoleh tubuh 50-90% berasal dari sinar UVB ini.
  3. ASI mengandung hanya sedikit vitamin D. Sebagian balita minum ASI berkepanjangan, tanpa diimbangi dengan makanan padat yang mengandung cukup vitamin D.
  4. Masyarakat saat ini menghadapi kondisi yang berisiko kurangnya vitamin D, seperti: masyarakat perkotaan bekerja di perkantoran yang lebih banyak berada di ruang tertutup, berangkat pagi hari dan pulang ketika matahari telah terbenam. Untuk mendapatkan cukup vitamin D, seseorang perlu berjemur di pagi hari selama minimal 20 menit dengan persentase kulit yang terpapar langsung minimal 40%.
  5. Di pihak lain, asupan vitamin D dari makanan tidak terjamin dengan perubahan pola makan masyarakat misalnya mereka yang ingin mengurangi jenis makanan berlemak cenderung menghindari lemak, susu dan turunannya. Demikian juga pola makan vegetarian, sebagian belum menjalaninya dengan tepat, sehingga berisiko mengalami defisit beberapa komponen makanan tertentu yang dibutuhkan oleh tubuh, termasuk vitamin D.
  6. Walaupun bukan faktor utama, tapi masyarakat kita yang banyak mengenakan busana tertutup sedikit banyak mempengaruhi pembentukan vitamin D3.
  7. Defisiensi vitamin D dapat mengakibatkan berbagai keluhan yang berhubungan fungsinya bagi tubuh, seperti tulang.

Tulang

di usia balita dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang dan gigi, di mana pertumbuhannya terhambat bahkan dapat berjalan tidak normal, misalnya tulang tungkai tidak lurus dan berbentuk O. Pada usia dewasa lanjut dapat menyebabkan osteoporosis dan patah tulang. Tidak sedikit juga yang mengalami nyeri tulang. Penyakit tulang yang berhubungan dengan defisiensi vitamin D adalah riketsia dan osteomalasia. Otot menyebabkan keluhan nyeri. Tidak sedikit penderita yang mengeluhkan gejala nyeri pada bagian tertentu tubuhnya, ternyata mengalami kekurangan vitamin D dan sembuh dengan suplementasi vitamin D. Sistem imun menyebabkan lebih mudah terinfeksi seperti flu, termasuk pula kecenderungan meningkatnya penyakit autoimun. Keganasan, cukup banyak studi yang memperlihatkan hubungan defisiensi vitamin D dengan beberapa jenis kanker. Keluhan lain seperti rasa lelah bahkan depresi, diabetes dan gangguan jantung.

Dengan beberapa fakta di atas, ditambah dengan data penderita defisiensi vitamin D Indonesia yang cukup tinggi, terutama pada balita dan lansia, dapat kita simpulkan bahwa suplemen vitamin D memang perlu diberikan pada kelompok tertentu yang memiliki risiko seperti:

  1. Balita yang makanan utamanya adalah ASI dan sulit mengonsumsi makanan padat. Apalagi jika terdapat keterlambatan pertumbuhan.
  2. Mereka yang jarang terpapar sinar matahari, terutama lansia yang mengalami sakit dan lebih banyak terbaring di tempat tidur.
  3. Mereka yang mengonsumsi obat tertentu seperti steroid, obat anti HIV, obat anti kejang tertentu, diuretik dan lain-lain.
  4. Ibu hamil dan menyusui.

Idealnya jumlah vitamin D dalam darah dapat diketahui dengan pasti melalui pemeriksaan darah, yaitu dengan deteksi nilai 25 (OH) D. Hanya saja pemeriksaan ini cukup mahal sehingga tidak umum dilakukan, kecuali pada mereka yang dianggap berisiko.

Mengonsumsi suplemen vitamin D dinyatakan aman, secara umum dengan dosis 800 – 2.000 IU. Untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan vitamin D Anda, konsultasikan dengan dokter. Bagi Anda yang merasa memerlukannya, tapi belum melakukan pemeriksaan darah dan tidak memiliki keluhan serius, Anda dapat memilih untuk mengonsumsi dosis rutin yang lebih kecil seperti yang diformulasikan pada sediaan L-CAL.

 

Tinggalkan Komentar Anda

6 + = 13