Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

6 Tindakan Untuk Menghindari Coronavirus

 
Di tengah begitu banyak informasi berkaitan dengan virus corona yang telah dinamai sebagai 2019 ncov (2019= tahun kemunculan; n=novel yang berarti baru atau belum dikenal sepenuhnya; co=corona; v=virus), menimbulkan kekhawatiran, empati, kesedihan dan berbagai reaksi lain pada masyarakat dunia atau masyarakat Indonesia secara khusus. Pada sebagian orang bahkan menimbulkan rasa takut yang berimbas pada masalah ekonomi dan sosial.  
Satu poin positif yang dapat diambil dan perlu dipertahankan adalah bagaimana saat ini masyarakat berusaha mendapatkan informasi tentang virus corona dan melakukan berbagai cara untuk melindungi diri dan keluarganya secara rasional. Masyarakat sudah sampai pada tahap yang dapat dikatakan sebagai tahap termotivasi dan bergerak melakukan perubahan sesuai dengan informasi yang diketahuinya. Sekali lagi yang digarisbawahi adalah “rasional”, sehingga tidak menimbulkan kepanikan yang dapat menyebabkan terjadinya berbagai hal yang tidak diperlukan dan malah merugikan. Di mana-mana kita menjumpai orang-orang bermasker, sabun pencuci tangan dan antiseptik terjual jauh di atas tingkat penjualan normal, masker mengalami kekosongan. Ini adalah tanda bahwa masyarakat peduli dan tidak berhenti pada sekedar tahu, tapi melakukan tindakan nyata. Pertanyaannya, mengapa terjadi secara mendadak? Jawabannya tentu saja karena 2019 ncov memang baru terjadi sejak Desember 2019 yang lalu. Adakah yang salah dengan kondisi tersebut? Kalau ada, bagaimana kondisi yag seharusnya?  
Karena narasi ini bertujuan positif, tanpa bermaksud menyalahkan tindakan tertentu atau pihak tertentu, maka lebih baik pertanyaan di atas ditampilkan dalam bentuk pertanyaan lain: di tengah semangat masyarakat yang seperti ini, apa yang sebaiknya dilakukan? Mari kita bayangkan jika tindakan serupa ini telah menjadi kebiasaan masyarakat, tentu akan banyak penyakit menular sejenis yang dapat dihindari. Tindakan yang mana sajakah itu:
  1. Rajin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan dan sehabis menggunakan kamar kecil atau setelah kontak dengan benda yang kotor dan sebagainya.
  2. Tidak menyentuh wajah terutama 3 area yang berpotensi sebagai tempat masuknya kuman yaitu: mata, hidung dan mulut.
  3. Memakai masker di tempat yang ramai namun kurang sirkulasi dan cahayanya seperti kendaraan umum, dan lain-lain.
  4. Tidak meludah sembarangan, menutup mulut dan hidung setiap batuk atau bersin dan memakai masker ketika sedang flu atau mengidap penyakit yang dapat menular melalui tindakan-tindakan tersebut.
  5. Berusaha menjaga daya tahan tubuh dengan cukup istirahat dan mengonsumsi makanan sehat dan suplemen
  6. Menghindari asap rokok dan berbagai kebiasaan lain yang berpotensi menurunkan daya tahan tubuh.
Tindakan-tindakan di atas sesungguhnya tidak hanya membantu mencegah 2019 ncov, tapi juga merupakan tindakan pencegahan untuk berbagai penyakit infeksi lain seperti flu pada umumnya, tuberkulosis (TBC), termasuk pula diare dan lain-lain.  
Bagaimana dengan penyakit lain yang tidak serupa dalam cara penularan, tapi memerlukan kewaspadaan dan semangat yang serupa dalam mencegahnya? Taukah Anda bahwa setiap tahunnya ada virus lain yang menyebabkan ratusan bahkan ribuan kematian di Indonesia saja? Hingga Januari 2019 saja terjadi 13.683 kasus DBD di 34 propinsi dan mengakibatkan 132 kematian. Sepanjang 2016 tercatat 204.171 kasus DBD dengan kematian mencapai 1.598 orang. DBD ini telah menjadi masalah dunia sejak 1960 dan 50-100 juta orang di dunia terinfeksi DBD setiap tahunnya. Tanpa bermaksud mengecilkan wabah 2019 ncov, tapi bukankah wabah DBD ini juga harus mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat terutama dalam melakukan berbagai tindakan pencegahan? Mencegah DBD tidak dapat diharapkan pada tindakan fogging saja. Masyarakat wajib melakukan tindakan lainnya, terutama pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang selalu didengung-dengungkan oleh pemerintah, tapi pelaksanaannya lebih banyak diserahkan kepada petugas puskesmas. Apa saja yang dapat masyarakat lakukan?
  1. Membersihkan lingkungan masing-masing, terutama dari segala benda yang berpotensi menampung air yang akan menjadi tempat bertelurnya nyamuk. Bahkan daun yang kering dan dibiarkan di halaman pada musim hujan, akan dapat menjadi penampung jentik nyamuk. Demikian juga penampung air pada dispenser atau kulkas. Sudahkan hal ini mendapatkan perhatian?
  2. Menjamin sirkulasi dan pencahayaan di dalam rumah, sekolah, kantor atau dimana saja yang prinsipnya mengurangi tempat-tempat yang disukai nyamuk.
Nyamuk mungkin tidak dapat dimusnahkan, tapi sangat mungkin untuk dikurangi. Ketika jumlah nyamuk dapat ditekan, tindakan tambahan seperti menggunakan bahan anti nyamuk dan lain-lain akan memaksimalkan usaha nasional menekan angka DBD di tanah air. Mari kita dengan tenang dan bersama-sama menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang ada di sekitar kita, namun secara bertanggung jawab melakukan berbagai tindakan yang diperlukan agar masyarakat menjadi lebih sehat.
 

Tinggalkan Komentar Anda

22 + = 23