Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Bahaya Obesitas Yang Mengakibatkan Gangguan Pernafasan

 

Seseorang dikatakan obese atau mengalami kegemukan bila hasil pengukuran BMI (body mass index) atau IMT (indeks massa tubuh) adalah 30 ke atas. Cara mengukur BMI dapat Anda lakukan dengan membagi berat badan (Kg) dengan tinggi badan2 (M). Saat ini Anda dapat mengakses kalkulator BMI melalui berbagai aplikasi internet. Anda tinggal memasukkan nilai berat badan dan tinggi badan Anda ke dalam kotak yang disediakan, kemudian dengan segera hasil perhitungan BMI akan terlihat. Jumlah orang dewasa >18 tahun di Indonesia yang mengalami obesitas, menurut laporan Riskesdas 2018 sebesar 21,8%. Tapi bila yang diambil adalah angka obesitas sentral, artinya obesitas dengan mengukur lingkar perut, di mana diketahui timbunan lemak di daerah sentral ini berisiko lebih tinggi dalam mempengaruhi kesehatan, maka angkanya adalah 31%. Bayangkan, hampir 1 di antara 3 orang Indonesia tergolong obesitas sentral.

Asma adalah penyakit saluran nafas yang ditandai dengan sesak, nafas berbunyi khas yang disebut mengi atau wheezing , serta dahak yang dapat menimbulkan batuk. Dilihat dari pengamatan sehari-hari, mungkin kita bisa menemukan kesamaan  antara obesitas dan asma, seperti:

- Lebih cepat lelah dan menghentikan diri dari suatu aktivitas fisik misalnya dalam kegiatan olah raga seperti lari, badminton, dll.

- Keterbatasan dalam aktivitas fisik terlihat dengan pola nafas yang pendek-pendek dan kadang berbunyi serta batuk.

Anda mungkin akan berpikir bahwa gejala yang sama ini sama sekali tidak berkaitan. Orang yang obese murni tanpa asma memang mengalami pengurangan kapasitas paru-paru karena diafragma yang berada di antara rongga perut dan dada terdorong ke atas oleh organ dalam perut yang volumenya bertambah dengan adanya deposit lemak. Akibatnya pengembangan paru-paru menjadi terbatas. Ditambah lagi dengan otot pernafasan yang juga berkurang kemampuannya karena bertambahnya lapisan lemak di dada. Itu sebabnya oksigen yang dihirup dalam setiap tarikan nafas juga lebih sedikit. Sedangkan orang obese memerlukan oksigen relatif lebih banyak dari orang dengan berat badan normal, untuk keperluan basal tubuhnya saja, ketika tidak melakukan kegiatan apapun, terlebih lagi bila beraktivitas. Maka tidak mengherankan kalau orang obese menjadi lebih cepat “kehabisan nafas”.

Namun ternyata ilmu pengetahuan membuktikan memang ada hubungan antara asma dan obesitas. Berikut ini beberapa fakta yang diperoleh oleh para peneliti:

- Persentase orang yang obese sekaligus menderita asma ternyata secara signifikan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan asma pada orang non obese. Pada sebuah studi di US didapati perbandingan anak obese dengan asma : anak non obese dengan asma = 31% : 20%. Sedangkan dewasa obese dengan asma dibanding dengan dewasa non obese dengan asma = 57% : 35%. Sejalan dengan data ini,  di Inggris didapati persentase dewasa dengan obese dan asma berat sebesar 48% dibandingkan dengan angka dewasa non obese dengan asma berat sebesar 25%. Dari data-data tersebut terlihat bahwa pada orang dengan obese memang lebih banyak yang menderita asma.

- Beberapa data mendukung bahwa obesitas menyebabkan meningkatnya angka asma berat serta memperpanjang lama perawatan di rumah sakit. Artinya pada mereka yang obese akan lebih lama/sulit pemulihannya. Bisa saja karena faktor asmanya yang lebih berat, atau  sering kali dikarenakan adanya faktor pemberat lain seperti diabetes dll.

- Orang yang obese sering mengalami kelemahan otot lambung. Yaitu otot yang mencegah naiknya asam lambung atau yang dikenal dengan GERD. Ada teori dan data yang memperlihatkan terjadinya penyempitan saluran nafas akibat naiknya asam lambung. Penyempitan saluran nafas adalah bagian dari mekanisme asma.

- Asma adalah reaksi inflamasi akut pada saluran nafas. Sedangkan pada obesitas juga terjadi reaksi inflamasi lambat. Kemungkinan reaksi ini juga menjadi faktor penyebab timbulnya asma pada orang obese yang sebelumnya tidak menderita asma.

- Pada orang obese sering  terjadi defisiensi vitamin D. mungkin ini ada hubungannya dengan sifat vitamin D yang larut dalam lemak. Di pihak lain ditemukan hubungan antara jumlah vitamin D dalam darah dengan kambuhnya asma.

- Data dan teori di atas didukung dengan studi yang membuktikan adanya perbaikan asma yang signifikan mengikuti penurunan berat badan sebanyak 15%.

Berbagai informasi ini mungkin akan memberikan motivasi bagi Anda yang menderita asma sekaligus mengalami kelebihan berat badan. Tapi ada atau tidak ada asma, melepaskan diri dari obesitas akan mengurangi berbagai risiko dan menjadikan Anda  lebih sehat.

 

Tinggalkan Komentar Anda

15 + = 25