Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Cara Menyikapi “New Normal” Dengan Tepat

Sebelum menentukan sikap, tentu harus paham dahulu apa yang disikapi ya. Mungkin masih banyak yang belum paham apa sebenarnya definisi new normal.
Sebelum dunia dilanda wabah Covid-19 dianggap sebagai masa normal. Ketika Covid-19 mengancam di sekitar kita, menjadikan kita harus berdiam di rumah untuk tetap aman. Meninggalkan sekolah, tempat bekerja, rumah ibadat, serta menghindari mall, pasar, pusat kebugaran dan lain-lain, merupakan kondisi yang tidak biasa. Namun ini harus kita jalankan agar terhindar dari infeksi. Setelah dijalankan selama berbulan-bulan, mau tidak mau harus ada adaptasi selanjutnya yang perlu dilakukan. Beberapa hal harus kembali diaktifkan agar aspek lain (di luar aspek kesehatan) tidak runtuh. Masa inilah yang disebut sebagai new normal, yaitu ketika orang-orang kembali kepada aktivitas sebelumnya, namun dengan menerapkan tatacara baru untuk tetap aman dari infeksi Covid-19.

Seharusnya tidak sulit untuk menyikapi masa ini dengan benar. Ada protokol yang telah dibuat oleh pemerintah. Masalahnya timbul ketika sekian banyak orang dengan pola pikir yang berbeda, harus menaati protokol yang dianggap “menyulitkan” ini. Benarkah sulit? Pasti akan ada jawaban berbeda untuk pertanyaan ini. Ambil saja contoh anjuran untuk memakai masker selama beraktivitas di luar rumah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang yang tidak memakai masker, melakukannya tidak murni karena merasa kesulitan, tapi karena merasa tidak dalam kondisi terancam.

Sebuah survey yang dilakukan oleh sebuah institusi di Singapura memperlihatkan data 77% masyarakat Jakarta merasa dirinya aman dari infeksi Covid-19. Jika hal ini terbentuk dari sikap yang benar mentaati protokol, maka ini memiliki makna positif. Artinya masyarakat telah bersikap dengan tepat dan memiliki rasa aman yang tinggi. Namun jika data lain memperlihatkan sebagian besar (94%) menyatakan tidak tahu ada orang yang dikenalnya menderita Covid-19, kemungkinan besar rasa aman ini timbul karena tidak melihat atau mendengar secara langsung efek Covid-19 di sekitarnya. Apalagi dengan kenyataan banyak terlihat orang yang beraktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker dengan benar.

Maka jika kita ulang pertanyaan tersebut: “Apakah benar sulit untuk mengenakan masker?”. Maka jawabannya mungkin tidak. Lalu mengapa banyak yang tidak mengindahkannya? Lebih mungkin karena rasa aman yang semu. Aman karena virus tersebut belum ada di sekitar mereka. “Buktinya selama ini saya baik-baik saja”. Begitu kira-kira pemikirannya. Mari kita cek fakta berikut ini:

1. Angka yang positif masih terus bertambah (belum berkurang). Jika ini dikarenakan pemeriksaan yang lebih aktif dilakukan, termasuk pada mereka yang tidak bergejala, ini menandakan cukup besar jumlah orang yang tidak bergejala namun dapat menularkan kepada orang di sekitarnya tanpa disadari. Dengan catatan orang-orang ini mungkin tidak memakai masker dan ada di sekitar kita.

2. Lebih banyak lagi mereka yang belum pernah menjalani pemeriksaan rapid test maupun swab. Tidak ada jaminan bahwa mereka belum terinfeksi, walaupun kelihatannya sehat.

3. Jika ada yang telah menjalani test dan dinyatakan negatif, namun selanjutnya menjalani aktivitas seperti biasa tanpa memakai masker, mereka akan tetap disamakan dengan kelompok orang yang belum pernah ditest.

4. Orang sering membandingkan Covid-19 dengan DBD. Memang benar DBD telah lebih lama menjadi masalah kesehatan kita. Dalam setahun dapat terjadi lebih dari 100.000 kasus. Namun setidaknya sudah lebih banyak yang diketahui tentang DBD, dan tenaga kesehatan sudah lebih paham bagaimana menangani kasus DBD agar tidak terjadi kematian. Makin tahun kasus kematian karena DBD sudah semakin menurun. Jika dibandingkan dengan DBD, tinggat kematian akibat Covid-19 jauh lebih tinggi. Di Indonesia persentase kematian karena Covid-19 sekitar 5%, sedangkan DBD sekitar 0,1% (menurut laporan Depkes 2019). Jadi andaikan ada 1.000 orang menderita DBD, kemungkinan 1 orang yang akan meninggal. Sedangkan dari 1.000 orang yang menderita Covid-19, kemungkinan yang meninggal sebanyak 50 orang.

Tanpa melakukan proteksi, Covid-19 adalah penyakit yang menyebar dengan cepat. Membiarkan diri kita menjadi sasaran empuk virus ini (tanpa menerapkan protokol hidup sehat), kita juga membahayakan orang-orang di sekitar kita. Bukankah mencegah lebih baik daripada menyesal kemudian. Jadi bagaimanakan sebaiknya kita bersikap?

1. Taati protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

2. Beraktivitas di luar rumah jika memang tidak dapat dihindari.

3. Jika Anda masuk dalam golongan berisiko (lansia, memiliki penyakit komorbid seperti hipertensi, diabetes dll), diam di rumah adalah pilihan terbaik untuk sementara ini.

Kalau menurut sebagian orang mengikuti protokol terasa lebih merepotkan, mungkin dapat melihat kerepotan apa yang dialami mereka yang terdeteksi positif Covid-19. Di samping memikirkan kondisi dirinya sendiri, betapa rasa khawatir terlebih akan terasa ketika memikirkan kondisi anggota keluarganya. Apalagi jika sampai menimbulkan kematian. Kalaupun berhasil lolos dari kematian, sebagian harus hidup dengan kondisi kesehatan yang tidak sama dengan sebelumnya. Ada yang mengalami kondisi serupa stroke, anggota tubuh teramputasi, kondisi paru-paru tidak dapat pulih, dll. Percayalah, mencegah jauh lebih baik. Sampai Indonesia dinyatakan cukup aman dari Covid-19. Berapa lama lagi situasi baru akan terkendali, semua itu ada di tangan kita semua.

Tinggalkan Komentar Anda

+ 58 = 66