Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Demensia: Umum Pada Usia Lanjut, Bukan Berarti Wajar

 

Seseorang mengeluhkan ibunya yang bersikap aneh akhir-akhir ini. Lebih jarang berbicara dan lebih sering tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Ketika berinteraksi dengan keluarga malah sering marah tanpa alasan yang jelas. Cukup sering beliau menyalahkan orang-orang di sekitarnya telah mengambil barang-barang pribadinya dan tidak mengembalikan pada tempatnya, menyebabkannya harus mencari ke mana-mana.

Kasus lain adalah seorang kakek yang tidak dapat berjalan karena mengalami patah tulang panggul, kemudian menjalani operasi. Mulanya sang kakek tidak mempunyai keluhan apapun selain nyeri yang masih dirasakan, serta ketergantungan kepada orang lain karena memang masih mengalami kesulitan dalam mobilisasi. Beberapa bulan berjalan, tidak banyak kemajuan yang dialami, keluarga justru merasakan beberapa kemunduran seperti tidak mau memberitahukan keluarga ketika perlu ke kamar kecil. Jika ditanya jawabannya tidak jelas dan kadang tidak mau menjawab sama sekali. Sikapnya menjadi pasif dan tidak peduli.

Dua contoh kasus di atas bisa dikatakan cukup umum terjadi, namun mungkin dengan detail yang berbeda. Contoh pertama tanpa keluhan fisik, biasanya akan dianggap sebagai perubahan hormonal atau masalah psikologis yang biasa terjadi pada wanita paruh baya pasca menopause. Kasus kedua mungkin diduga sebagai proses penyembuhan yang lambat, mengakibatkan masalah psikologis cenderung depresif.

Bisa saja dugaan-dugaan di atas benar. Tapi apa pendapat Anda jika dikatakan beberapa dari gejala di atas dapat memenuhi kriteria demensia? Mari kita lihat lebuh lanjut.

Demensia bukan penyakit, tapi sekumpulan gejala yang meliputi penurunan memori, kemampuan berfikir, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari serta perubahan tingkah laku. Dalam setahun diperkirakan ada 10 juta kasus baru demensia di seluruh dunia. Bukan sekedar menjadi pelupa, penderita demensia yang tidak segera diketahui akan lebih cepat jatuh pada kondisi lanjut, di mana penderita kehilangan kemampuannya untuk mandiri. Beberapa cirinya adalah sebagai berikut:

  1. Tahap awal: lebih sering lupa, kurang awas pada waktu, kadang lupa atau bingung sedang berada di mana atau ke mana arah pulang.
  2. Lebih lanjut sifat pelupa akan lebih nyata, di mana penderita mulai lupa atau kesulitan mengingat nama orang di sekitarnya, tersesat di area yang biasa dikenalnya, makin sulit berkomunikasi, agak sulit mencari dan merangkai kata, mulai kesulitan menjaga kebersihan diri, perubahan tingkah laku lebih nyata, bolak-balik menanyakan pertanyaan yang sama, dan lain-lain. Beberapa kemampuan yang hilang adalah kemampuan orientasi tempat maupun waktu, pemahaman, perhitungan, belajar, bahasa serta penilaian. Hal penting lain yang tidak dimiliki adalah motivasi.
  3. Pada tahap akhir penderita sama sekali tidak peduli akan waktu dan jam, tidak mengenali keluarga dan sahabatnya, tergantung kepada orang lain dalam segala aktivitasnya, sulit atau tidak bisa berjalan, dapat juga terjadi kesulitan menelan, perubahan tingkah laku dapat mencapai tahap agresif.

Demensia bersifat progresif dan tidak dapat sembuh. Prinsip penatalaksanaan demensia adalah:

  1. Mengetahui sedini mungkin agar dapat diperlambat, sehingga dapat bertahan selama mungkin pada tahap awal di mana gejala masih minimal.
  2. Terapi dan perbaiki setiap gejala yang ada, baik itu dengan berbagai obat maupun latihan dan fisioterapi, termasuk terapi psikologis.
  3. Mengoptimalkan kesehatan fisik.
  4. Kenali faktor penyebab dan terapi setiap faktor yang berpotensi memperburuk gejala.

Jalan terbaik tentunya adalah pencegahan terjadinya demensia. Walaupun bisa saja ada faktor genetik, namun studi membuktikan bahwa risiko demensia dapat ditekan dengan cara:

  1. Olah raga teratur.
  2. Menghindari rokok.
  3. Menghindari alkohol yang berlebihan.
  4. Mengontrol berat badan.
  5. Pola makan sehat.
  6. Mengontrol tekanan darah, kolesterol dan gula darah.
  7. Menghindari stress terutama kecenderungan terjadinya depresi.
  8. Hubungan sosial yang sehat.
  9. Mempertahankan aktifitas kognitif misalnya dengan tetap aktif melatih daya nalar dan memecahkan masalah.

Sekali lagi deteksi dini sangat penting. Peka akan perubahan menjadi faktor utama. Walaupun orang tua umumnya lebih pelupa, jangan lengah mengenalinya sebagai bagian dari demensia. Jika Anda mendapati gejala yang mengarah ke demensia, atau bila Anda masih ragu-ragu, yang terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter serta melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Demensia tidak secara langsung menyebabkan kematian, tapi memang dapat berakhir fatal dengan menurunnya kekebalan dan berbagai fungsi tubuh seperti kemampuan menelan, sehingga dapat terjadi infeksi. Namun penatalaksanaan yang baik memungkinkan penderita hidup dengan demensia hingga puluhan tahun dengan kualitas hidup yang baik.

 

Tinggalkan Komentar Anda

+ 59 = 68