Klik Untuk Menilai Artikel ini
[Total: Rata-rata: ]

Virus Penyebab Covid-19 Adalah Rekayasa: Keyakinan Yang Mengkhawatirkan Di Era New Normal

Setelah berbulan-bulan menghadapi situasi pandemi, masyarakat dunia mulai membentuk suatu pola pikir atau pemahaman tentang virus penyebab Covid-19 ini bagi dirinya sendiri. Berbagai informasi yang didapatnya selama ini, yang berasal dari berbagai sumber termasuk dari pengamatannya sehari-hari, menyebabkan timbulnya pandangan yang berbeda. Secara umum masyarakat dunia terpolarisasi dalam dua pandangan: percaya adanya virus yang memang menyebabkan Covid-19 dan di pihak lain sama sekali tidak percaya dan menganggap penyakit ini sebagai suatu kebohongan.

Pada awalnya kemunculan kelompok kedua ini tidak terlalu mengkhawatirkan dan dianggap hanya merupakan “bumbu” di antara berbagai perbincangan seputar Covid. Namun saat ini, ketika penganut paham ini semakin besar jumlahnya bahkan menimpa orang-orang yang dianggap berpengaruh atau mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi, maka hal ini bukan lagi sesuatu yang remeh. Sebuah survey di Amerika Serikat pada bulan Maret 2020 memperlihatkan ada 13% orang yang tidak percaya adanya virus corona penyebab Covid-19. Di era media sosial yang sangat luas saat ini, seseorang dapat mempengaruhi banyak orang dengan jarak tak terbatas, hanya dalam waktu singkat. Jangan lupa bahwa seseorang ini bisa saja orang yang sangat berpengaruh dan mempunyai komunitas yang cukup luas (misalnya seorang artis, kepala negara, pemuka agama, bahkan seorang dari dunia medis. Apalagi jika ini bukan hanya sekedar pemahaman yang tersimpan dalam benak masing-masing orang, tapi telah teraplikasi dalam sikap hidup sehari-hari. Bisa dibayangkan bagaimana era new normal ini, secara khusus bagi Indonesia akan dipenuhi dengan berbagai tantangan. Bagaimana sesorang yang bahkan tidak percaya bahwa virus atau penyakit itu ada, akan dapat melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan? Mungkin akan ada tindakan kucing-kucingan dalam mematuhi protokol, malahan mungkin tidak sedikit yang terang-terangan menampilkan.

Sebenarnya tidak ada salahnya masing-masing orang mempunyai pendapat yang berbeda, namun pada kasus tertentu mungkin ada hal penting yang akan terdampak. Dalam menanggapi munculnya berbagai penyakit, ini bukan fenomena baru. Telah sejak lama ada saja pihak yang meragukan atau tidak percaya, contohnya yang terjadi pada HIV di awal-awal kemunculannya. Hingga banyak orang yang tidak peduli pada tindakan pencegahannya dan menjadi salah satu penyebab bertambah banyaknya penderita HIV positif sampai saat ini. Namun secara prinsip jika menyangkut ilmu pasti, maka sudah seharusnya kita mengetahui fakta yang sebenar-benarnya. Virus merupakan obyek penting bagi pelaku medis dan peneliti. Setiap virus yang telah dinamai secara resmi memiliki ciri tertentu yang menyebabkannya dikenali dan dibedakan dengan virus lainnya. Demikian juga sifat dan efeknya bagi makhluk hidup lainnya, merupakan sesuatu yang dapat diamati bahkan dibuktikan oleh para dokter dan peneliti. Walaupun merupakan virus yang relatif baru, tetap saja ada hal-hal yang dapat dibuktikan dan tidak dapat direkayasa. Mengapa banyak orang yang menyangsikannya, mungkin karena virus bukan “sosok” yang dapat ditemui secara langsung dengan mata telanjang. Ketika keberadaannya tidak terlihat dan tidak terasa (termasuk mereka yang asimtomatik atau tanpa gejala), memang sulit bagi sebagian orang untuk mempercayai apalagi takut terhadapnya.

Namun di atas semua itu, ada hal yang harus kita sadari bersama, yaitu ketika prinsip dan sikap pribadi kita akan berdampak pada orang lain. Jika masing-masing pihak tetap memegang keyakinannya sendiri, ada hal yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri: sejauh mana mereka yakin bahwa pendapatnya dapat dibuktikan? Apakah dengan menjalani keyakinan tersebut, mereka yakin bahwa tidak ada risiko yang sedang mereka pertaruhkan bagi dirinya, keluarga dan orang-orang yang mereka jumpai? Bagaimana jika, bagi mereka yang termasuk dalam kelompok yang tidak percaya, setidaknya mematuhi protokol dari pemerintah, semata-mata sebagai warga negara yang baik, tidak harus karena mereka menyetujuinya? Mengenakan masker misalnya, walaupun tidak percaya ada virus penyebab Covid-19, dengan mengenakannya akan mengurangi pula risiko tertular virus flu. Jangan bilang kalau mereka juga tidak percaya ada virus flu. Nah loh!

Tinggalkan Komentar Anda

1 + = 8